Sumberdaya genetik kambing Kosta di kabupaten Pandeglang

Koordinasi upaya pengelolaan sumberdaya genetik ternak (SDGT) telah dilakukan Puslitbang Peternakan dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang 16-17 April 2014, kegiatan tsb.  dalam upaya konservasi ternak kambing Kosta sebagai salah satu kambing local Indonesia. Kambing Kosta merupakan keturunan dari kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor).

Kab. Pandeglang merupakan salah satu lokasi penyebaran kambing Kosta di provinsi Banten selain Kabupaten Serang dan Kab. Tangerang. Populasi kambing Kosta di kabupaten Pandeglang tidak terdata secara jelas tetapi diperkirakan hampir 80% dari populasi kambing yang ada di Pandeglang adalah kambing Kosta.

Untuk mengetahui kondisi eksisting kambing Kosta dilakukan kunjungan lapang, salah satunya di Kecamatan Cikeusik (± 75 km dari kota Pandeglang) dimana populasi kambing Kosta di wilayah ini cukup dominan. Dilakukan pertemuan dan diskusi dengan petugas lapang Dinas Peternakan wilayah Cikeusik dan perwakilan kelompok ternak.
Masyarakat di sini pada umumnya  mengenal kambing yang dipelihara mereka adalah dengan istilah kambing Kacang. Padahal kenyataan yang ada di lapang, kambing yang dipelihara oleh para peternak tersebut umumnya 2 jenis yaitu kambing Kacang dan kambing Kosta dimana pemeliharaannya dicampur dalam satu kandang. Bila diperhatikan secara seksama sebagian besar adalah kambing Kosta, terdapat perbedaan yang cukup jelas, salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapat garis yang sejajar pada bagian muka kiri dan kanan.

Sebaran warna dari kambing Kosta adalah coklat tua sampai hitam. Kambing Kosta yang ada di Kec. Cikeusik sebagian besar berwarna coklat tua dengan presentase sekitar 75%, lainnya berwarna hitam. Rata-rata bobot  badan untuk betina 20 kg dan jantan 30-40 kg, panjang badan 62  cm dan tinggi badan 59 cm.

Dengan adanya pemeliharaan yang dicampur dalam satu kandang (kambing Kacang dan kambing Kosta) dan kekurang tahuan peternak dikhawatirkan sudah terjadi terjadi pencampuran antara kedua rumpun tersebut.

Saran yang diberikan oleh tim dari Puslitbangnak sebagai upaya untuk memurnikan kambing Kosta antara lain perlu ada pejantan kambing Kosta untuk dikembangkan ke peternak, pembentukan kampung ternak kambing Kosta dikaitkan dengan aspek agribisnis, pembinaan kelompok peternak kambing Kosta serta perlu ada sosialisasi kepada masyarakat tentang kambing Kosta dan keunggulannya dimana tingkat adaptasi terhadap lingkungan cukup tinggi.

Hasil survey Puslitbangnak diperoleh informasi untuk mendapatkan pejantan Kosta sangat sulit.  Ini mengindikasikan keberadaan kambing Kosta sudah mulai jarang.

 

Strategi Menciptakan Pasar Spesifik

Menteri Pertanian, yang diwakili oleh Kepala Puslitbang Peternakan (Dr. Bess Tiesnamurti), telah memenuhi undangan dari Universitas Muhamadiyah Malang dalam kegiatan Musyawarah Nasional XIII Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia dengan tema “Mengabdi untuk ISMAPETI, Bersatu Membangun Negeri”. Pertemuan dilaksanakan dari tanggal 20-24 Januari 2015, seminar Nasional telah dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2015. Paparan dalam pertemuan ini sebagai key note speaker menyampaikan tentang Strategi Pemerintah dalam Peningkatan Daya Saing SDM guna Pencapaian Ketahanan Pangan Subsektor Peternakan dalam Menghadapi AEC 2015. Selain paparan Kapuslitbangnak, Ir Nuri Hidayat MSc, Prof Wahyu Widodo MS dan Masngud Oman Santoso juga tampil menyampaikan paparannya.

Kapuslitbangnak menyampaikan, mahasiswa haruslah menyadari bahwa pasar bebas ASEAN telah menjadi kesepakatan masyarakat dunia yang dideklarasikan di istana Bogor pada tahun 1994. Sehingga seluruh komponen masyarakat Indonesia hendaknya dapat berperan untuk bangkit dan berjuang guna menghadapinya. Indonesia mempunyai banyak produk lokal peternakan sangat spesifik yang apabila dikelola dengan sangat baik dapat meningkatkan daya saing maupun sumber pendapatan Negara. Indonesia mempunyai ternak ayam kampung dengan cita rasa yang khas. Penciptaan pasar spesifik (niche market) merupakan strategi yang harus dilakukan. Apabila pada ternak lokal dilaksanakan pemuliabiakan, intensifikasi sistem pemeliharaan, pengolahan produk yang higienis penuh citarasa dengan peluang untuk diekspor dalam bentuk olahan siap santap, maka semua itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh seluruh insan peternakan di Indonesia. Demikian pula dengan sapi Bali yang merupakan rumpun sapi khas Indonesia, namun saat ini hanya dikelola di level hulu saja. Apabila sapi Bali dikelola sebagai penghasil daging secara organik, kemudian produknya diolah secara higienis maka hal tersebut akan mengulang kesuksesan Indonesia sebagai pengekspor sapi Bali pada era 1970 an. Saat ini daging sapi Bali dapat diolah dan dijadikan pangan siap saji khas Indonesia misal rendang dan diekspor. Tampaknya peluang tersebut akan meningkatkan produktivitas dan otomatis akan merangsang budidaya di sektor hulu sehingga dapat ditingkatkan.

Pertemuan ini dihadiri oleh anggota dan pengurus senat mahasiswa peternakan dari Perguruan Tinggi di Indonesia yaitu Universitas: Syiah Kuala, Sumatera Utara, Andalas, Lambung Mangkurat, Pajajaran, Diponegoro, Gajah Mada, Jenderal Sudirman, Sebelas Maret, Brawijaya, Udayana, Mataram, Pattimura, Hasanudin, Tadulako, Haluoleo, Sam Ratulangi, Muhamadiyah Malang, Mercu Buana, Gajah Putih, Univ. Nomensen dan IPB. (REP)

Informasi lainnya : http://peternakan.litbang.pertanian.go.id

Bisnis Menggiurkan dari Kelinci Rex

Eksotisme Kelinci menyimpan bisnis menggiurkan di baliknnya. Federasi Industri Kulit Internasional melaporkan bisnis Kulit kelinci dunia mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 60 triliun.

Menurut Peneliti Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Dr. Yono C Rahardjo, Kelinci Rex menghasilkan bisnis beragam.  Mulai dari bisnis anak kelinci sebagai binatang kesayangan, bibit kelunci untuk induk dan pejatan, dan kelinci afkir.

Kemudian industri berbasis kelinci seperti produk abon, dendeng, bakso, sosis, atau nugget. juga industri fashion seperti tas, topi, dan jaket. bahkan kotoran dan urin pun bisa dijual sebagai pupuk tanaman. Harga pupuk yang berasal dari kotoran kelinci mencapai Rp 7500 per kg sedangkan urinnya Rp 5000 per liter.

Harga per lembar kulit kelinci rex berbulu prima ukuran 36 x 42 cm saja, jika sudah disamak mencapai US$ 18 atau sekitar Rp 215 ribu. Dan untuk membuat satu buah jaket mantel, dibutuhkan 35 helai kulit kelinci.

Informasi selengkapnya: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47084